Kontak Langsung
kode di bawah adalah
=

KONTAK SUTEKI

MARKETING
Devid Hardi, M.T.
HP : 081310931528
Habib Rahman Hakim, Amd
HP : 081374375111,
081288308831

Show Room (Bandung)
Suteki IT Solution
Jl: Sarijadi Raya no 52 kec Sukasari. Bandung - Jawabarat
Telp/Fax : 022-2010576
email : info@suteki.co.id



NEWSLETTER
Untuk menerima berita tentang situs ini, anda bisa mendaftar langganan Newsletter.
Langganan
Berhenti langganan
kode di bawah adalah
=


94 Pelanggan

Curahan hati seorang marketing software product & development

Oleh : Deni Nasrul

Kenapa Harus Korupsi??

“Hidup di dunia adalah sementara, yang kekal nanti di akhirat”. Kalimat tersebut sebetulnya sudah “basi”, maksudnya orang (khususnya Indonesia) mungkin sudah bosan mendengarnya. Tapi kenapa masih banyak orang yang melakukan korupsi?? Ya ini juga sebetulnya pertanyaan sudah “basi” dan tidak perlu dibahas.

Gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia sedang gencar-gencarnya dengan adanya badan independen yang dibentuk oleh anggota dewan kita, yaitu KPK. Belum lagi organisasi-organisasi macam ICW yang sudah lebih dulu aktif.

Saya sering sekali melihat/mendengar berita mengenai kegiatan organisasi anti korupsi yang sangat luar biasa bekerja dengan segala cara yang legal untuk memberantas korupsi bahkan sampai nyawapun hampir melayang akibat terror dan tekanan-tekanan dari berbagai pihak, namun hal tersebut malah melecut semangat para pejuang pemberantas korupsi ini.

Bagaimana dengan saya??

Saya hanyalah orang biasa yang hidup dari perdagangan/jual-beli/niaga khususnya dunia IT, yang setelah bertahun-tahun saya jalani sebagian ternyata bersinggungan dengan yang namanya korupsi, baik secara terang-terangan ataupun bersinggungan dengan sebuah “system” yang sudah terbentuk menjadi sesuatu hal yang dianggap “lumrah”/”biasa”/”tradisi”.

Sistem ini sudah terbentuk/terkonsep sejak lama (pendapat saya) dan sepertinya sulit untuk dirubah karena berbagai pihak saling terkait dan saling mendukung baik itu keinginan sendiri ataupun karena “keterpaksaan”.

Balik ke pertanyaan terakhir, sebagai orang biasa apa sih yang bisa saya lakukan. Yang pasti saya mungkin tidak bisa seperti pejuang pemberantasan korupsi, tidak bisa juga membuat peraturan mengenai korupsi karena saya bukan anggota dewan.
Menurut saya jawaban pertanyaan diatas sudah dijawab oleh lagunya AA Gym, saya coba nyanyikan ya. Maaf jika suara saya jelek.

“Mulailah dari diri sendiri
Mulailah dari hal-hal yang kecil
Mulailah saat ini juga”

Jadi saya kira lagu ini adalah jawaban buat saya, saya mulai dari diri sendiri untuk tidak terlibat dengan system terutama dalam kegiatan perniagaan yang saya geluti baik itu karena, saya tidak mau karena “keterpaksaan” saya harus mengikuti system ini, masih banyak pilihan buat saya dan itu mungkin berkahnya lebih banyak.

Jika kolega saya bilang kepada saya “kamu tidak akan bisa sukses/dapat uang, kamu akan didepak/dilempar”, saya jawab “mending saya ngga dapat uang dan didepak/dilempar” dan saya bahagia dan tidak rugi apapun. Saya juga mulai dari hal-hal yang kecil dengan emblem perusahaan kami yang ANTI-KKN, dan saya lakukan saat ini juga tidak usah menunda-nunda dan mudah2an konsisten.

Mohon Maaf bagi yang kurang berkenan, ini hanya curahan hati saya saja. Terima Kasih

(deni,2010-07-21 15:00:12)

Gomenasai..., Sensei (Mohon maaf pak guru)

Pak guru itu begitu ikhlas, dalam sebuah pekerjaan rutin saya jadi mengenal beliau lebih dekat.

Bagaimana tidak? untuk menyelesaikan pekerjaan di sekolah tempat pak guru tersebut mengabdikan diri, saya mesti bolak-balik beberapa kali selama beberapa
bulan terakhir (yah...namanya juga tuntutan profesi).


BIASA TAPI ISTIMEWA

Setiap ke sekolah tersebut tentu saja harus 'merepotkan' si Bapak yang ditugaskan untuk mendampingi saya guna menjelaskan kebutuhan sekolah tsb.

Semuanya berjalan serba biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa dan tidak ada
keanehan. Demikian juga ketika saya menyelesaikan tugas, menyerahkan hasil
pekerjaan dan kemudian menerima pelunasan sisa pembayaran. Setelah pamitan dan mengucapkan terima kasih yang dijawab dengan senyuman oleh si Bapak serta pesan "Jangan bosan kesini ya!!", Bruumm....saya pulang ke SUTEKI DANE, kembali ke markas. Sangat natural, dan tidak ada yang istimewa. Anda tentu setuju bahwa tidak ada hal yang istimewa dari kisah nyata diatas. Tapi saya merasakan sedikit perbedaan, ya...sedikit tapi terasa sangat mendalam.


PERTANYAAN SUPER SULIT

Apa dan kenapa berkesan bagi saya? Ya...si Bapak tidak membuat saya berfikir ulang atau tepatnya BERFIKIR KERAS. Saya tidak dibebani oleh si Bapak dengan pertanyaan klasik yang 'super sulit' untuk dijawab; "mana bagian saya?". Kalimat sakral yang seringkali harus dihadapi, jawabannya; la...bla..bla..., panjang (nggak bisa pendek), hati-hati dan sesopan mungkin.


Walaupun sudah sering menjawab pertanyaan sejenis, selalu saja ada 'sensasi baru' ketika harus menjawab pertanyaan serupa, dada deg-degan, bibir pucat, mata berkunang-kunang, pandangan gelap, eh enggak ding ini mah gejala mau pingsan kali ye...


PERGULATAN BATHIN

Terima kasih! (mungkin) 'cuma' ucapan itu yang bisa saya berikan kepada si Bapak saat itu. Ya....Anda benar, tentu saja ada pertentangan dalam bathin saya. Ingin sekali memberikan 'sedikit' rizky yang kami terima, minimal yang saya terima.
Bahkan karena keihlasan beliau tentu saja saya rela jika harus merogoh kocek sendiri. Tapi.....hmm.., harus memberi uang kepada beliau dengan modus apa? aturan organisasi kami jelas: TIDAK BOLEH 'MEMBERI' KEPADA INTERNAL RELASI. Bukan apa-apa, cuma sekadar tetap menjaga; SUTEKI konsisten
dengan ANt! KKN.Tidak banyak yang dapat kami perbuat untuk memperbaiki bangsa kita yang sedang terpuruk ini kecuali: TIDAK IKUT-IKUTAN MENGHANCURKAN.


GOMENASAI SENSEI

Kalau si Bapak ikhlas menjalankan tugasnya dan saya ikhlas 'berbagi' rizky, gpp
donk?! kan bukan suap, apalagi proyeknya juga sudah selesai. Benar, namun masih ada pertimbangan lain. Bagaimana jika justru saya yang pertama kali 'memberi' (dalam urusan dinas/kerja) kepada si Bapak? Bagimana jika si Bapak menganggap pemberian itu adalah hal yang wajar? Bagaimana jika suatu saat kelak si Bapak justru menganggap salah jika ada orang yang 'tidak memberi'? Atau bagaimana kalau pemberian saya ditolak mentah-mentah dan saya dianggap mau 'menyuap'?. hehehe KONYOL.

GOMENASAI SENSAI, ya cuma kata maaf (dalam hati) dan terima kasih yang bisa saya ucapakan. Dengan berbagai pertimbangan, terpaksa saya 'tidak berbagi'. Terima kasih atas pelajaran terbaik yang Bapak berikan, tentang arti keikhlasan dan tentang bagaimana menjalankan tugas.

Jika suatu saat Bapak membaca tulisan ini, ketauhuilah ada do'a yang kami hadiahkan untuk Bapak. SEMOGA ALLAH MEMUDAHKAN RIZKY, MEMUDAHKAN URUSAN, SERTA ALLAH MEMBERIKAN KESUKESAN BAGI PUTRA-PUTRI PENYEJUK HATI BAPAK. AMIIN.

Devid Hardi
Bandung, akhir Maret 2007
http://dvh_suteki.blogs.friendster.com/

(riki,2007-03-25 18:55:42)

Indonesia Tak Lagi Terkorup di Asia

www.antikorupsi.org

Meski belum sampai tuntas, namun usaha pemberantasan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di Indonesia mulai menunjukan hasil. Menurut hasil survey lembaga pemeringkat yang berbasis di Hongkong, Political and Economic Risk Consultancy (PERC), dalam persepsi pengusaha ekspatriat di Asia, Indonesia tidak lagi dianggap sebagai negara terkorup.

Dalam publikasi hasil survey terhadap 1.500 pengusaha ekspatriat itu, PERC menempatkan Indonesia di urutan kedua bersama Thailand. Sedangkan predikat negara terkorup di Asia, menurut responden survei, adalah Filipina. Pada survey yang sama tahun lalu, Indonesia berada di urutan pertama alias berpredikat negara paling korup di Asia.

Menurut lembaga yang memberikan konsultasi bagi perusahaan dan pemerintah itu, Indonesia mencatat kemajuan yang berarti dalam penindakan terhadap pelaku korupsi. Ada niat kuat dari pemerintah Indonesia untuk memberantas korupsi, meskipun hasilnya belum terlihat banyak oleh responden, komentar PERC dalam laporan hasil surveinya.

Apa yang dilakukan pemerintah Indonesia, menurut PERC, dinilai lebih baik oleh responden survey dibanding yang dilakukan oleh pemerintah Filipina dan Thailand. Komitmen Indonesia lebih baik, sedangkan junta militer di Thailand dan pemerintah Filipina masih jalan di tempat, lanjut PERC. Rakyat Filipina dan Thailand, tulis laporan PERC, sudah bosan dengan janji-janji pemerintah untuk memberantas korupsi.

Hasil survey PERC itu mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Saya rasa rating tersebut rasional, karena hingga kini telah banyak kebijakan anti korupsi yang dijalankan di Indonesia , kata Ketua Indonesia Corruption Watch (ICW) Teten Masduki.

Dihubungi koran ini tadi malam, penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua mengungkapkan bahwa kenaikan tingkat dala survey PERC itu belum berarti apa-apa. Itu bukan berarti pemberantasan korupsi sudah berhasiL, ujarnya. Meski demikian, diakuinya gebrakan pemberantasan korupsi sudah mulai ada hasilnya.

Sejalan dengan survey PERC, indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia menurut surveyTransparency International Indonesia (TII) semakin meningkat tiap tahunnya. Tahun 2005, IPK Indonesia 2,2, pada tahun 2006 mencapai 2,4. Padahal KPK mentargetkan IPK 2,6 pada tahun 2006, ujar pria paro baya tersebut. Masalahnya, adalah birokrasi yang masih menjadi kendala terbesar dalam usaha pemberantasan korupsi.

Untuk mengikis hambatan-hambatan dalam pemberantasan korupsi perlu ada kemauan politik (political will) dari pemerintah untuk melakukan percepatan reformasi birokrasi. Dunia usaha juga harus berperan dalam mewujudkan birokrasi yang bersih. Tidak kalah pentingnya adalah peran serta yang berani dari masyarakat dan pers yang tanggap dan profesional, tambahnya.

Ketua KPK Taifiequrachman Ruki juga berpendapat birokrasi yang korup sebagai masalah terbesar usaha pemberantasan korupsi. Hasil survey beberapa lembaga, menurut dia, yang menunjukan kesadaran antikorupsi di Indonesia mulai membaik, diamini Ruki.

Pria kelahiran Rangkasbitung Banten itu menambahkan, pemberantasan korupsi akan maksimal, jika tidak hanya menjadi jargon, namun dilaksanakan secara aktif dan sadar oleh semua elemen masyarakat.

Jika tokoh pemberantasan korupsi di Indonesia menyambut gembira hasil survey PERC, Presiden Filipina Gloria Arroyo justru menolak hasil survey tersebut. Dia mengatakan, data survey itu sudah kadaluwarsa.

Mereka menggunakan data lama yang sudah tidak akurat, tegas Arroyo. Kepada majalah Business News Asia magazine, Arroyo mengungkapkan, rating utang Filipina kini membaik. Arroyo pun menegaskan, para analis membuat penilaian dari data yang sudah lama.

Constancia de Guzman, kepala komisi antikorupsi yang bekerja untuk Presiden Arroyo menegaskan bahwa pemerintahnya telah melakukan langkah-langkah pemberantasan korupsi. Pemerintah telah melakukan sesuatu meskipun hasilnya belum maksimal, katanya kepada wartawan. (nue/ein/afp)

Sumber: Jawa Pos, 14 Maret 2007

(dvh,2007-03-16 09:48:14)

ANT! KKN

Ruang ini khusus dipersembahkan oleh Suteki dalam rangka mendukung gerakan anti KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Di sini, Suteki akan menyampaikan artikel2 atau tulisan2 yang berhubungan dengan gerakan Anti KKN baik yang dibuat/dialami oleh kru Suteki sendiri atau dari pengalaman orang lain.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa KKN adalah salah satu hal utama yang merusak bangsa ini. Mulai dari tingkat yang paling rendah sampai para pejabat tinggi tidak luput dari masalah ini. Tentunya sudah sama-sama kita ketahui hal2 seperti berikut :

- Uang damai saat ditilang
- Menyogok saat mencari kerja / sekolah
- Menyogok supaya dapat proyek
- Bayar lebih saat mengurus surat2
- Korupsi para pejabat
- dll dll

sering terjadi di sekitar kita.

Bagaimana atau apa upaya kita untuk memberantasnya, minimal untuk tidak melakukannya? Mari kita mulai gerakan ANTI KKN bersama-sama. Tanpa dukungan dari seluruh masyarakat, mustahil untuk menghilangkan KKN dari sekitar kita.

KATAKAN TIDAK UNTUK KKN!!!

Selamat menikmati.
(riki,2007-03-15 08:31:45)